Berbagai Macam Tipe Dosen Pembimbing

Bagi kamu- kamu anak kuliahan, yang akan menuju semester akhir tentunya akan dinanti oleh tugas yang super duper penting yaitu skripsi. Skripsi sering dianggap hal yang paling menakutkan selama proses perkuliahan. Kamu harus mampu untuk mengangkat suatu tema atau permasalahan, mencari fakta, data, dan semua itu harus didasarkan pada teori yang ada. Kamu harus rajin mondar mandir ke perpustakaan dan toko buku. Setiap hari harus berkawan dengan computer sampai mata peri melototin layar kompurter saking tidak ada ide.  Terus kamu harus terjun kelapangan untuk penelitian. Nah hal yang tak kalah pentingnya dalam proses pembuatan skripsi adalah dosen pembimbing. Dosen pembimbing ini juga berbagai macam tipe kamu harus mampu menyesuaikan diri dengan berbagai tipe dosen pembimbing ini, supaya kamu bias menyandang status sarjana.

1. Dosen Pembimbing Yang Baik Hati

Tipe dosen pembimbing seperti ini sangat diidam-idamkan oleh mahasiswa. Mereka akan dengan sangat sabar membimbing kita menuju keseuksesan menyusun skripsi. Mereka dengan  senang hati menerima kita saat kita ingin konsultasi, memberikan petunjuk, ide-ide cemerlang. Bahkan bahan-bahan yang diperlukan untuk skripsi akan berpindah tangan dari dosen pembimbing ketangan mahasiswa yang penuh keberuntungan ini alias dosen pembimbing membantu mencarikan bahan.

2. Dosen Pembimbing Yang Suka Ngobrol

Kamu akan disibukkan karena dosen pembimbing tipe ini akan sangat senang saat kamu berkunjunguntuk berkonsultasi. Kamu akan terheran heran karena setiap bertemu dosen tipe ini kamu akan diajak keruangnya untuk konsultasi yang berujung dengan percakapan selain masalah skripsi. Kamu harus siap berjam-jam untuk mendengarkan mulai dari masalah skripsi sampai masalah lainnya. Kamu juga harus mampu menahan lapar karena tanpa sadar kamu sudah berada diruang sang dosen berjam-jam dan kamu belum makan siang.

3. Dosen Pembimbing Yang Pelupa

Saking sibuknya menjadi seorang dosen karena harus ngajar sana sini, dan bertemu dengan banyak orang, maka sungguh sangat maklum jika mereka lupa dengan anak bimbingannya. Pastinya saat kamu datang keruangannya maka akan terjadi percakapan seperti ini:

M : selamat siang pak

D : Siang. Ada apa ya?

M : Saya mau konsultasi pak

D : Konsultasi apa?

M : Skripsi pak

D : ooo…. Judul kamu apa?

M : ini pak……(sebutkan judul)

D : Ok  silahkan duduk,  skripsi kamu mana?

M : sudah saya berikan ke bapak dua hari yang lalu

D : oooo…yang kemarin itu….saya belum sempat baca datang dua hari lagi ya.

Dan percakapan ini akan terjadi minimal tiga kali sampai sang dosen benar-benar ingat kalau kamu anak bimbingannya. Untuk menghadapi dosen tipe ini kamu harus sabar dan rajin-rajin untuk berkonsultasi biar kamu diingat dan  draf skripsi kamu bisa dibaca.

4. Dosen Pembimbing yang sangar

Kamu harus menjadi mahasiswa yang tahan banting untuk menghadapi dosen seperti ini. Kamu harus tanamkan didalam hati bahwa setiap dosen itu baik hati, cuma agak berbeda cara menyampikan kasih sayangnya ke mahasiswa yaitu dengan marah marah. Kamu tak perlu takut untuk datang berkonsultasi. Saat kamu dimarahi karena skripsi kamu belum juga siap, kajian kamu belum mendalam, penelitian kamu terhalang oleh ini dan itu, atau permasalahan lainnya, kamu harus tetap sabar duduk diam seakan-akan mendengarkan omelan sang dosen sampai dosen berhenti karena merasa capek setelah memarahi kamu. (dkr)

Fenomena Pesolek Politik, Asyik dan Perlu

Sudut pandang orang untuk mencapai target politik berubah sepanjang perubahan atau evolusi moral di masyarakat. Jika dahulu seorang pemangku politik merupakan seorang politikus yang lama malang melintang menjadi tautan atau penyalur agregasi politik yang berasal dari pelatihan dan kaderasi suatu partai politik. Kini, siapapun Anda, apapun profesi Anda, dan di manapun Anda berdomisili. Anda bias memenangkan satu kursi jabatan politik.

Karakter utama dari proses politik di negeri ini, adalah popularitas. Tentu saja kampanye selalu tentang popularitas, tapi tidak ada suatu niatan yang lebih condong kepada popularitas selain proses kampanye di Indonesia, yang menjadikan popularitas sebagai tujuan dibandingkan menjadikan popularitas sebagai alat angkut utama menuju penyebaran gagasan kampanye. Orang tidak dipilih dari gagasan, orang dipilih tidak atas kecakapan, melainkan orang dipilih atas dasar rasa proksimitas, dan familiaritas.

Megawati Soekarno Putri, pernah dalam suatu kesempatan mencibir fenomena ini, sebagai fenomena para politisi pamrih yang doyan bersolek. Namun, itulah yang diluputkan Megawati. Kenapa tidak? Pemilu merupakan short term act, short kissing, momentary electrical jolt, yang juga bias diartikan sebagai, hubungan jangka pendek, ciuman sebentar, yang nyeterumnya seketika, sehingga harus dipandang dan disikapi dengan juga sama-sama ‘bijak’ dan seketika. Jika untuk memenangkan suara dibutuhkan 1000 pesolek dan 1 orang cakap. Maka jadikanlah, karena tidak ada yang benar-benar berpengaruh kecuali dengan berkuasa. Karena semua gagasan mengenai kebajikan dan perbaikan merupakan omong kosong bila hanya sampai di atas kertas dan tanpa pendukung.

Pengalaman penulis sebagai salah seorang tim sukses kampanye salah seorang Caleg di Bekasi, yang Alhamdulillah bias merebut satu kursi Anggota DPR bagi dirinya. Cukup berharga untuk menyadari bahwa apa yang penulis lakukan pada masa-masa kampanye itu justru MERUPAKAN KESIA-SIAAN. Karena begitu banyak resource atau bahan baku SDM yang ‘terbuang sia-sia’ Membuang modal percuma, mahal menyewa tim konsultan, yang saat ini persaingannya begitu hebat, sehingga tingkat persaingan itu pun telah menyetuh moral perpolitikan, yakni juga bersiap dengan setumpuk insentif yang banyak untuk membeli para hakim konstitusi yang berkerja di Mahkamah Konstitusi, gawang terakhir dari proses demokrasi di Indonesia.

Memang ada proses politik yang mahal dalam kehidupan demokrasi yang serba mahal dan menuntut pengembalian modal. Dan Anda bisa memastikan dengan mengikuti resep-resep pada buku ini, Anda bukanlah di antara mereka yang melakukan hal semacam itu. Kemenangan pun bisa diperoleh dengan cara memaksimalkan potensi tim kampanye yang sebenarnya luar biasa sangat murah, dibandingkan high cost democracy, atau kampanye tebar pesona insentif yang muncul bagai momok dalam pemilu di Indonesia. Jika Anda melaju mulus dengan cara macam itu, bukankah masa jabatan Anda seolah menduduki kursi berduri, yang suatu saat menuntut Anda untuk ‘kembali modal’. Bila Anda selihai itu, tidakkah proses ‘lihai’ pun sama-sama sedang berlangsung diseberang Anda. Tentang penguatan lembaga pengawasan, lembaga anti korupsi, dan sejenisnya. Dan suatu saat, ‘adu lihai’ itu akan selalu bermuara satu hal saja. Yakni masalah bagi Anda.

Berkampanye tanpa membibit masalah dan menang. Itulah yang memang idealnya suatu proses politik.